CHAPTER 8
It feels like Sun has just shouted ’I hate my job’ yesterday. But if someone repeated her words and said the same thing, no one would believe that. Look at what she’s doing now. With a big smile on her face, she holds a proposal document on her hand. No one can wipe away that kind of smile. Just like a very stubborn stain on a white T-shirt, that smile won’t be rinse out easily.
Without knocking, Sun enters Jang’s room and shouted his name. ”JANG! WAKE UP!”
”Are you teasing me? Ghost like me never sleeps!” that heavy voices answers directly, just like it has been prepared before. The owner of the voice suddenly appears in front of Sun. Too close with Sun’s face.
Sun frowns, ”Next time…,” she said with an annoyed voice, ”Don’t pop up too close from my face!”
”Why?” Jang asks with a mocking face. ”Are you afraid?”
Sun burts out laugh, her mood is too good to snap back at Jang. ”No… it’s just… I can see your nose’s pore in this distance. A little bit annoying.”
Jang suddenly moves backwards, feels ashamed. Apparantly, he still can’t beat Sun in getting high words. ”So, what’s the proposal?” Jang asks as if he never heard Sun’s last sentence.
Sun smiles. She loves seeing Jang trying to beat her words. Sun thinks Jang’s effort is too childish,but it is surely so cute and sweet at the other hand. His defeated’s expressions always gives Sun a butterfly on her stomach.
Sun puts the document on the table. As Jang starts to read the document, Sun starts to observe Jang’s expression. Sun holds her smile when Jang’s confusing face becomes irittated.
”YAAAAA![1]” That shouting makes Sun wants to cover her ear. ”Are you crazy?”
”Why am I crazy?” Sun replied with a higher tone.
”This… this… look at this!” Jang points at the document.
Sun pretends to read slowly even though she knew what the document said. ”Why?”
”Why? Are you serious? You asking me why?” Jang really feels irritated. If he has become a solid ghost, he will throw away that paper in front of Sun’s face. ”Read this! Read carefully!”
”I’ve read that.” Sun answers. ”The label is D. It’s drama. So what? You don’t like drama genre since you are a man?”
Jang clicks his tounge and fly higher, higher than Sun’s head. That young man folds his hand in front of his chest, as if he wants to show Sun who has the power here.
”You are… definitely crazy!” Jang says. ”It’s the only word that can describe you! That kind of proposal doesn’t exist! It’s not a ghost’s job.”
”That’s a soul job.” Sun sets to right and looks at Jang. Jang almost touches the ceiling. ”You see? This is our organization letterhead! SeoulMate! See? It’s an official proposal. Siwon signed this document.”
”I don’t want to do that!” Jang acts childish. He goes down a little bit but still floating in the air.
”But, this is…” Sun tries to force Jang. Her new job gets better and better. Now, she wants to try all the proposal sent by the clients who needs help from SeoulMate . This particular proposal is so unique. She never thought a human brain can think of something like this.
“Sun… keumanhae![2]”
“Stop it?” Sun repeats his words. ”Why I have to stop this? Thi sproposal…”
“Sun, jukeosipho?[3]” That angry voise shouted by Jang makes the air tremble, but Sun doesn’t feel afraid.
Sun’s bang shake a little when she shakes her head, “I’m just doing my job. I’m here to help you, you know that right?”
”Help me? Are you out of your mind?” Jang broaden his eyes.
When she hears it, Sun looks at his face irritatedly. ”Don’t use that tone to me!” Sun swings her hand and tries to hit Jang.She feels chill when her hand coming through his arm.
“Oh….” Sun too shock to say another words. She moves her hand again and she can come through his arm again. She swings again, coming throung his chest. Still feels not sure, Sun tries to touch his face.
This time, Jang move backwards angrily, ”You want to kill me twice?”
Sun lowering her hand and grims, ”You almost become a solid ghost. Your spirit becoming cold.”
His angry face turns in to excitement. That irritated face suddenly disappear. ”Really?” He touches his own hand and touch his face. He doesn’t feel any differences.
Sun laughs. “Of course you can’t feel that. Only human can feel that… like this!” She gets the chance to play with Jang’s spirit again. Sun wants to touch his face but then he screams.
“YAAA!” He shouts but not doing anything. His mood is too good so he doesn’t really care with what she’s doing with his body.
Sun know she’s a little crossing the line here, but she can’t resist the temptation to play with Jang’s spirit.
Then Sun put a serious face on her face and says, ”That’s why… this proposal… you should do this perfectly. Who knows, after you do the ghost main job, which is to scare away people… you will be a perfect solid ghost and can moves things!”
”To scare people?” Jang doesn’t agree. ”Is that really a ghost main job?”
Sun nods without thinking twice. ”Of course… this is your main job in SeoulMate. To scare people away!”
”People!” Jang shouted as if he find a mistake in her words. ”You said people! A human! Person! That’s a main job of a wandering ghost like me. To scare away people. But this?” He points at the documen on the table.
”This?” Sun pretends not knowing anything and grabs the proposal document.
”An animal!” Jang shuts his jaw tight. His cheek bone looks prominent when he does that.
Sun wants to laugh very bad. She bursts out laugh again. ”I am so sorry… but, the problem is… the proposal for a liquid ghost like you not that much. Today, a client sends us this proposal asking our help. Her goat is in labor, but until now, it doesn’t seem happening. So, she believe a little shocking event from a ghost can make the proces faster.
Jang feels disgustes, ”A goat? Is that my job? To help a goat deliver its baby?”
[1] Yaaa! = Hei!
[2] Kemanhae = stop
[3] jukeosipho? = you want to die?
—————————————————————–
BAB 8
Rasanya baru kemarin Sun mengatakan ia membenci pekerjaannya. Namun, jika sekarang ada seseorang yang berkata Sun membenci pekerjaannya, tidak akan ada yang percaya. Lihatlah, gadis itu berjalan dengan langkah ringan dan sebuah cengiran lebar yang sulit hilang layaknya noda membandel di baju putih. Perlu berbagai proses perendaman dengan cairan pemutih sebelum akhirnya noda itu lenyap. Untuk saat ini, tidak akan ada yang bisa menghapus cengiran itu dari wajah Sun.
Kedua tangan Sun mendekap sebuah map berisi dokumen proposal. Tanpa mengetuk, Sun menggeser pintu kertas kamar Jang dan meneriakkan nama pemuda itu. “JANG! BANGUN!”
“Menghina? Hantu tidak pernah tidur!” Suara berat itu langsung menjawab seakan ia sudah menyiapkan kalimat itu. Pemilik suara itu tiba-tiba berdiri dekat sekali dengan Sun.
Sun mengerutkan kening, “Lain kali…,” ucapnya geram, “Jangan muncul terlalu dekat dengan wajahku!”
“Kenapa?” tanya Jang. “Takut?”
Sun terbahak sambil menjauh, hatinya terlalu senang untuk membalas ucapan Jang. “Tidak… aku bisa melihat pori-pori hidungmu yang besar sekali. Sedikit menganggu.”
Tanpa disuruh, Jang langsung menjauh secepat kilat, menyembunyikan rasa malunya. Ternyata sekeras apa pun mencoba ia masih belum bisa mengalahkan Sun. “Jadi, apa proposalnya?” tanyanya seakan kalimat terakhir Sun tidak pernah terucap.
Sun mendengus tertahan. Ia suka sekali melihat Jang berusaha beradu mulut dengannya. Sun menganggap usaha Jang itu aneh, tetapi juga lucu dan manis di sisi lain. Ekspresi kalah pemuda itu selalu bisa memberikan percikan ceria di hati Sun.
Dengan gerakan cuek Sun menaruh dokumen yang dibawanya di atas meja. Gadis itu memperhatikan dengan seksama wajah Jang yang membaca dokumen itu perlahan. Sun memasang tampang pura-pura bodoh saat melihat ekspresi Jang yang berubah dari bingung menjadi jengkel.
“YAAAAA!” Teriakan itu membuat Sun menjauhkan kepalanya sambil menyipitkan mata. “Micheosseo?[1]”
“Kenapa gila?” balas Sun tak kalah keras.
“Ini… ini… lihat ini!” Jang menunjuk-nunjuk dokumen yang tadi dilempar Sun ke atas meja.
Sun pura-pura menunduk dan membaca sekilas. “Kenapa?”
“Kenapa? Kau tanya kenapa?” Jang terlihat sangat jengkel. Kalau sudah menjadi hantu padat, ia pasti sudah mengacak-acak kertas itu dan menunjukkannya di depan Sun. “Baca! Baca yang jelas!”
“Aku sudah membacanya!” Sun berujar dengan nada sedikit naik. “Labelnya D… drama! Kenapa? Tidak suka? Merasa cowok jadi tidak suka drama?”
Jang mendecakkan lidahnya kemudian melayang lebih tinggi, jauh di atas kepala Sun. Pemuda itu melipat kedua tangannya di depan dada, seakan ingin menunjukkan kepada gadis itu siapa yang lebih berkuasa.
“Kau… GILA!” Jang menegaskan. “Hanya satu kata itu yang masuk akal! Mana ada proposal seperti itu! Itu bukan pekerjaan hantu!”
“Ini pekerjaan soul!” Sun membenarkan sambil mendongakkan kepalanya tinggi-tinggi. Kepala Jang sudah hampir menyentuh langit-langit. “Kau lihat! Ini kop dokumen kita. SeoulMate! Lihat… ini resmi. Ada tanda tangan Siwon di atasnya.”
“Aku tidak mau melakukannya!” Jang kembali bersikap seperti anak kecil yang merajuk. Kali ini ia menurunkan tubuhnya sedikit dan mundur sampai hampir menyentuh dinding, sehingga Sun tidak perlu mendongakkan kepalanya.
“Tapi ini, kan….” Sun memutuskan untuk memaksa Jang. Pekerjaan ini semakin lama semakin menarik baginya, ia tidak mau melewatkan satu proposal sekali pun. Terlebih, proposal kali ini sungguh unik. Ia benar-benar tidak menduga otak manusia bisa bekerja sedemikian hebatnya sampai memikirkan hal seperti itu.
“Sun… keumanhae!”
“Hentikan?” Sun meninggikan suaranya. “Kenapa aku harus menghentikannya? Proposal ini….”
“Sun, jukeosipho?[2]” Kata yang diucapkan Jang dengan marah itu membuat udara bergetar, tetapi Sun malah tidak merasakan apa pun.
Poni Sun ikut bergerak saat ia menggelengkan kepalanya sambil mendesah, “Aku hanya melakukan tugasku. Aku kan berniat membantumu.”
“Membantu? Bercanda, ya?” Jang melebarkan matanya.
Saat kata itu terucap, Sun menatap hantu itu dengan kesal. “Jangan menggunakan nada seperti itu denganku!” Sun mengayunkan tangannya dan memukul lengan Jang pelan. Sensasi dingin mengalir ke jari-jari Sun saat tangannya menembus lengan Jang.
“Oh….” Sun terlalu terkejut untuk bisa mengatakan kata yang lain. Gadis itu menggerakkan tangannya lagi, yang tentu saja menembus lengan Jang. Mengayunkannya lagi, menembus dada Jang. Aliran dingin itu semakin terasa. Masih merasa tidak yakin, Sun mengangkat tangannya tinggi-tinggi, hendak menembus wajah Jang.
Kali ini Jang melangkah mundur, “Kamu mau membunuhku dua kali?”
Sun menurunkan tangannya sambil cemberut, “Kau hampir menjadi hantu padat. Tubuhmu sudah mulai dingin.”
Wajah marah Jang berubah cerah seketika. Kejengkelan di wajahnya menghilang tergantikan oleh semangat yang meluap-luap. “Benarkah?” Ia menatap tangannya sendiri, kemudian menyentuh wajahnya. Ia tidak merasakan adanya perubahan.
Sun tertawa kecil. “Mana bisa terlihat? Hanya manusia yang bisa merasakannya… seperti ini!” Sun mendapatkan kesempatan bermain dengan tubuh Jang. Gadis itu menembuskan tangannya ke dada Jang. Sun juga ingin menembus wajahnya atau melepas hood dari kepala Jang, tetapi Jang keburu menjerit.
“YAAA!” Jang membulatkan matanya, namun tidak melakukan apa pun. Perasaannya pasti terlalu senang, sehingga tidak terlalu peduli dengan gangguan Sun. Sun sadar dirinya memang keterlaluan, tetapi gadis itu tidak bisa menahan diri untuk tidak bermain-main dengan tubuh Jang. Sun suka melakukannya dan gelitikan dingin yang ia rasakan membuatnya ketagihan.
Sun masih tertawa. Lalu berhenti, memasang mimik serius dan berkata dengan suara setenang mungkin, “Makanya… tugas kali ini… harus kau lakukan dengan baik. Siapa tahu… setelah melakukan tugas utama hantu, yaitu menakut-nakuti… kau akan menjadi hantu padat.”
“Menakut-nakuti?” Jang mengerang sebal, terlihat ingin mengajukan protes. “Itu tugas utama hantu?”
Sun mendongakkan kepala, menatap mata Jang dengan serius sambil mengangguk yakin. “Tentu saja… itu kan tugas utamamu di sini. Membuat orang takut!”
“Orang!” Jang seakan menemukan kesalahan dalam ucapan Sun. “Kamu bilang orang! Manusia! Itulah tugas utama hantu! Menakut-nakuti orang. Ini?” Jang menunjuk dokumen yang ada di atas meja.
“Ini?” Sun pura-pura bodoh dan menyambar map tugasnya.
“Hewan.” Jang mengatupkan rahangnya erat. Tulang pipinya terlihat menonjol saat ia melakukannya. “Aku harus menakut-nakuti hewan?”
Diucapkan oleh seorang hantu berwarna pucat dengan gerakan lambat dan wajah jengkel seperti itu, justru membuat Sun ingin tertawa. Sun meledak dalam tawa sambil mengenyahkan wajah tersenyumnya dalam otaknya. “Maaf… Maaf… masalahnya… pekerjaan untuk hantu yang belum padat masih sedikit. Hari ini ada klien yang percaya kambingnya akan segera melahirkan jika ada hantu yang menakut-nakutinya. Makanya….”
Jang memiringkan bibirnya dengan jijik, “Kambing? Itu tugasku? Membantu kambing melahirkan?”
[1] Micheosseo? = Kamu sudah gila?
[2] jukeosipho? = kau ingin mati?
___________________________________________________________